Monday 19th of October 2026
×

Berapa Banyak Kerugian Sebab Karhutla? Dari Kabut Asap hingga Kerugian Triliunan Karhutla Bukan Lagi Sekadar Masalah Lingkungan

Berapa Banyak Kerugian Sebab Karhutla? Dari Kabut Asap hingga Kerugian Triliunan Karhutla Bukan Lagi Sekadar Masalah Lingkungan

--

SEKAR OTONITY – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang 2026 diperkirakan menimbulkan kerugian ekonomi sekitar Rp 167 triliun sampai dengan pertengahan Oktober 2026.

Pakar ekonomi makro, analis kebijakan, dan akademisi sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Teguh Yudo Wicaksono menganggap hal tersebut berpotensi meningkat menjadi sekitar Rp 204 triliun jika pola kebakaran pada sisa musim ini mengikuti kondisi pada 2015 dan 2019.


“Estimasi itu merupakan hasil kajian yang menggunakan data dan metode perhitungan berbasis studi Bank Dunia, bukan angka resmi kerugian yang diterbitkan pemerintah,” ujar Teguh kepada Kompas.com, Jumat (16/10/2026).

Baca juga: Jadwal Update Uruwashi no Yoi no Tsuki Full Chapter Scan Indonesia, Cowok yang Bertindak Blak-Blakan

Berdasarkan perhitungan tersebut, kerugian Rp 167 triliun setara dengan sekitar 0,65 persen produk domestik bruto (PDB) nominal Indonesia pada 2026.

Sementara itu, proyeksi kerugian Rp 204 triliun sepanjang musim setara dengan sekitar 0,79 persen PDB. Rentang estimasi kerugian sampai dengan pertengahan Oktober berada pada Rp 136 triliun hingga Rp 234 triliun, yang menunjukkan terdapat ketidakpastian dalam perhitungan.

Kajian yang dilakukan oleh Teguh tersebut memakai metode benefit transfer dengan mengacu pada penilaian kerusakan dan kerugian sebab kebakaran 2015 yang dilakukan Bank Dunia.

Dia menjelaskan bahwa, nilai kerugian pada 2015 sebesar Rp 221,4 triliun dibagi luas lahan terbakar resmi sekitar 2,61 juta hektar, kemudian disesuaikan dengan perubahan tingkat harga sampai 2026.

 

Besarnya dampak tersebut mendorong para ekonom juga organisasi masyarakat sipil meminta pemerintah memperkuat pencegahan, melindungi warga terdampak, meninjau perizinan usaha, sampai kemudian memulihkan ekosistem gambut yang rentan terbakar.

Baca juga: Analisis Teori Magic Emperor Chapter 925 Scan Indonesia, Teknik Sihir Tingkat Tinggi dari Kehidupan Masa Lalunya

Pakar ekonomi makro, analis kebijakan, dan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Teguh Yudo Wicaksono memperkirakan kerugian ekonomi akibat karhutla mencapai Rp 167 triliun hingga pertengahan Oktober 2026. Bahkan kerugian tersebut berpotensi meningkat.

“Jika pola kebakaran pada sisa musim ini menyerupai kondisi 2015 dan 2019, kerugian sepanjang musim berpotensi mencapai Rp 204 triliun atau sekitar 0,79 persen PDB,” kata Teguh kepada Kompas.com, Jumat (16/10/2026).

Berdasarkan perhitungan Teguh, sektor pertanian diperkirakan menanggung kerugian terbesar, yakni sekitar Rp 50 triliun. Sementara itu, kerugian sektor kehutanan dan nilai emisi karbon masing-masing diperkirakan mencapai Rp 41 triliun.

Teguh menggunakan pendekatan benefit transfer, yakni mengadaptasi hasil penelitian sebelumnya untuk memperkirakan dampak ekonomi dalam kondisi berbeda. Perhitungan tersebut mengacu pada kajian Bank Dunia mengenai kebakaran hutan di Indonesia pada 2015.

Dengan demikian, angka tersebut merupakan estimasi berbasis pemodelan, bukan nilai kerugian yang seluruhnya telah diverifikasi melalui pencatatan resmi pemerintah.

Source:

Update Terbaru

RELATED POST