Nilai Rupiah Disorot! BI Rate Diprediksi Naik ke 6 Persen dalam RDG Oktober 2026
--
Baca juga: Aksi Bejat Dokter di Bandung, Lecehkan Anak Sendiri Hingga Ditangkap di Apartemen Bekasi
Menurut Irman, peningkatan suku bunga dapat membantu mempertahankan daya tarik investasi dalam aset berdenominasi rupiah sekaligus memperkuat keyakinan investor. Risiko tersebut dinilai semakin penting di tengah tingginya imbal hasil global dan kebutuhan pembiayaan defisit transaksi berjalan.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual. Ia menilai penyesuaian suku bunga berpotensi membantu menjaga selisih imbal hasil aset rupiah agar tetap kompetitif dibandingkan instrumen investasi di negara berkembang lainnya.
Nilai tukar rupiah menjadi salah satu faktor utama yang mendasari perkiraan tersebut. Pada Selasa (20/10/2026), rupiah ditutup di posisi Rp17.995 per dolar Amerika Serikat setelah sempat melemah hingga melewati Rp18.000 per dolar AS. Kondisi ini meningkatkan perhatian terhadap upaya menjaga stabilitas mata uang domestik.
Selain pergerakan rupiah dan aliran modal asing, keputusan suku bunga juga dipengaruhi kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve, perkembangan inflasi dalam negeri, serta prospek pertumbuhan ekonomi. Risiko kenaikan harga barang impor dan gangguan pasokan akibat ketegangan geopolitik maupun fenomena El Nino turut menjadi perhatian para ekonom.