Harga Cabai dan Daging Ayam Melonjak , Indeks Harga Pangan Nasional Naik Menembus Angka 5% yang Dipicu Kemarau El Nino
--
SEKAR OTN - Bank Indonesia (BI) bersama dengan pemerintah pusat memberikan peringatan keras terkait dengan laju kenaikan harga barang kebutuhan pokok yang kian mengkhawatirkan.
Dalam laporan perekonomian terbaru, inflasi pada kelompok pangan bergejolak (volatile food) dilaporkan mengalami lonjakan tajam hingga menyentuh angka 5,03 persen secara tahunan (Year on Year/YoY). Kondisi ini bergerak cukup liar dibandingkan dengan inflasi inti nasional yang sejauh ini masih relatif aman dan terkendali pada kisaran 2,8 persen.
Kenaikan inflasi pangan ini menjadi perhatian utama dalam rapat terbatas yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyampaikan bahwa meskipun secara umum inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) masih berada di dalam rentang target aman otoritas moneter yaitu sebesar 3,28 persen pada September hingga Oktober 2026, pergerakan harga pangan harus segera diintervensi.
Jika inflasi sektor makanan dibiarkan menembus batas psikologis atas, dampaknya akan sangat memukul daya beli masyarakat, terutama yang berada pada kategori ekonomi rentan.
Berdasarkan data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, lonjakan kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) terjadi secara masif di 36 provinsi di Indonesia. Komoditas hortikultura seperti cabai merah dan cabai rawit menjadi pendorong utama kenaikan harga di lebih dari 323 kabupaten dan kota di seluruh nusantara.
Selain faktor cuaca berupa kemarau panjang akibat fenomena El Nino yang mengganggu produktivitas lahan pertanian, tingginya harga komoditas pakan ternak global juga memicu lonjakan harga daging ayam ras dan telur di pasar domestik.
Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, merespons kondisi ini dengan menginstruksikan seluruh kepala daerah untuk memperketat pengawasan pasokan di pasar-pasar tradisional maupun modern. Penimbunan barang dan jalur distribusi yang tidak efisien harus segera dipangkas guna menekan margin harga yang terlalu tinggi. Pemerintah daerah diminta aktif menggelar operasi pasar murah demi menstabilkan harga komoditas utama agar tetap terjangkau oleh masyarakat luas.
Di sisi lain, pengamat ekonomi menyoroti fenomena domestik baru yang ikut memengaruhi ketersediaan barang. Tingginya penyerapan komoditas pangan seperti susu, telur, daging ayam, dan buah-buahan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi dalam jumlah besar untuk menyokong program strategis nasional disinyalir memicu perebutan pasokan di tingkat hilir dengan konsumen rumah tangga biasa. Hal ini diperparah dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menyebabkan biaya impor bahan baku pangan terkonversi menjadi lebih mahal. Dampaknya sangat terasa bagi konsumen, di mana nilai belanja rumah tangga mengalami penyusutan volume fisik barang hingga 35 persen dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.